Published On: Wed, Jul 27th, 2016

“Ulah” China dan Antisipasi Kita

Oleh: Yusril Ihza Mahendra*

Tulisan berikut berasal dari kuktwit Prof. Yusril Ihza Mahendra melalui akun @Yusrilihza_Mhd, Rabu, 13 Juli 2016.

2. China akhirnya kalah dengan Philippne di tribunal internasional Den Hag atas dispute di Laut China Selatan

3. Klaim China bahwa mereka mempunyai hak historis berdasarkan 9 dash line di Laut China Selatan ditolak oleh tribunal internasional Den Haag

4. Sejak awal para ahli hukum laut berpendapat klaim China tersebut tidak beralasan, tapi China ngotot bahkan bikin pulau reklamasi di sana

5. China harusnya menghormati putusan tribunal dan menghentikan klaimnya yang tidak beralasan di laut China Selatan

6. Indonesia, walaupun bukan pihak dalam sengketa dan tidak terlibat dalam sengketa spartly, harusnya menyambut positif putusan ini

7. Klaim China atas perairan sekitar Pulau Natuna patut kita sikapi dengan cermat dan hati-hati agar tidak merugikan kepentingan nasional kita di masa depan

8. Apalagi China selama ini menunjukkan sikap kurang menghormati ZEE Indonesia yang sah berdasarkan UNCLOS

9. Di luar masalah klaim laut, Pemerintah RI harusnya juga hati-hati dengan rencana ekspor 10 juta pekerja China ke negara kita

10. Kehadiran 10 juta pekerja itu akan menimbulkan persoalan kependudukan, sosial, ekonomi dan politik di masa sekarang dan masa depan

11. Myanmar juga mulai bersikap hati-hati dengan kehadiran pekerja China ke negaranya yang dikaitkan dengan investasi dan pinjaman pemerintah

12. Investasi dan pinjaman yang disertai dengan ekspor pekerja itu bisa-bisa lebih menguntungkan china dari pada bangsa dan negara kita

*Penulis: Praktisi dan Ahli Hukum

 

About the Author

-

Komentar di bawah

XHTML: Anda dapat menggunakan tag html: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>