Published On: Tue, Apr 12th, 2016

Parpol Itu Penting! Tapi Kemana Mereka (2 Habis)

Pilihan politik Ahok dalam pilkada mendatang serta opini masyarakat yang terbangun setelahnya seharusnya direspon cepat oleh parpol untuk segera berbenah diri. Takkan ada asap jika tak ada api, pun pandangan miring masyarakat terhadap parpol pastilah lahir dari sikap parpol yang kurang terasa kehadirannya secara utuh dalam kehidupan masyarakat. Seandainya parpol hadir dipastikan hanya dalam momentum-momentum politik, padahal kehidupan masyarakat tak selalu dalam urusan politik semata.

Tak mudah mendirikan, membangun serta menjaga eksistensi sebuah parpol. Banyak prasyarat yang wajib dipenuhi sebagaimana yang diamanatkan dalam undang-undang. Rekruitmen pengurus, pelaksanaan kegiatan-kegiatan, dan seterusnya. Belum lagi upaya untuk selalu dapat menjadi pilihan masyarakat dalam pemilu, ragam strategi yang harus difikirkan. Maka tak terbilang tenaga, keringat, pikiran serta dana yang harus dikeluarkan.

Oleh karenanya bagi saya individu-individu yang terjun kedalam dunia politk merupakan pribadi yang super. Karena belum tentu semua orang mau dan mampu untuk berinteraksi secara langsung dengan politik melalui keaktian di partai. Apalagi jika niatan berpolitik dilakukan dengan tujuan pengabdian kepada rakyat dan bangsa, pastilah ini pribadi yang super kuadrat.

Politik adalah sebuah seni, maka tak ada rumusan baku untuk menjawab sebuah fenomena. Parpol harus bertanggungjawab untuk merapikan dan menyusun kembali sistem yang telah porak poranda dalam internalnya. Kehadirannya harus memberi dampak positif bagi masyarakat. Ia harus menjadi penyambung aspirasi masyarakat kepada negara yang mungkin saja tidak dapat dipenuhi karena berbenturan dengan kepentingan ideologi atau pragmatis penguasa.

Dilain sisi masyarakat juga harus merasa memiliki parpol sebagai bagian dari penjagaan stabilitas kehidupan. Berdasar kepada pengalaman saya, masyarakat cenderung konsumtif ketika berhadapan dengan parpol baik secara kelembagaan maupun personal. Parpol atau politisi dianggap sebagai sasaran empuk permohonan a, b, c dst. Kehadiran parpol atau politisi dianggap sebagai musim meraih rezeki tambahan baik berbentuk sembako maupun uang tunai.

Oleh karenanya tak heran biaya parpol atau politisi menjadi tinggi, karena kursi dianggap sebagai barang lelang yang harus dibayar dengan harga material maupun harga sosial. Sementara pendanaan halal parpol terbatas, tak heran kemudian jika parpol melalui kader-kadernya terpaksana menari dana tambahan yang kadang-kadang “haram”.

Kita sebagai masyarakat harus membantu parpol, mengkondisikan agar ia menjadi institusi yang kuat baik secara personal maupun kelembagaan. Pikiran positif, rasa memiliki, komunikasi yang intensif bahkan jika memang ada sumbangan dana harus kita berikan pada parpol untuk mendorong mereka agar dapat menjalankan tugas, fungsi dan kewajibannya dengan baik. Bukan untuk keuntungan parpol atau politisi itu, melainkan untuk keuntungan kita sendiri karena kuatnya parpol akan berkorelasi positif pengawalan terhadap hak-hak masyarakat yang mungkin diabaikan atau terlupa oleh negara.

Oleh karenanya menjaga kehidupan demokrasi, melalui interaksi positif negara, parpol dan masyarakat menjadi syarat mutlak kuat dan berdaulatnya sebuah negara. Dan menjadi kewajiban bagi seluruh pihak. Ketika demokrasi tidak berjalan dengan baik, sistem saling bertabrakan dan kehidupan ketata-negaraan menjadi chaos (kacau) maka dapat dipastikan hanya yang bersenjata dan memiliki modal kuat yang akan mengambil alih kekuasaan, ketika itu terjadi tamatlah kita beserta anak cucu keturunan kita dalam bingkai kehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penulis: Ibnu Zubair

About the Author

-

Komentar di bawah

XHTML: Anda dapat menggunakan tag html: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>