Published On: Fri, Sep 2nd, 2016

Fais Sang Pengabdi dari Bekasi

Otentiknews.com, Jakarta – Sesaat sebelum matahari menyapa, hujan rintik terlebih dahulu memberi salam. Pagi nampak cerah di atas wilayah Bekasi. Matahari malu malu menyemburkan cahaya indahnya. Seperti biasa, aktifitas olah badan menjadi menu masyarakat di akhir pekan ketika itu, tak terkecuali dengan laki-laki satu ini. Bersama-sama dengan komunitas pendaki gunung, ia memulai pagi dengan berjalan mengelilingi tanah lapang yang tak jauh dari tempatnya tinggal.

Namanya Faris Ismu Amir Hatala, akrab disapa Ais atau dikantornya lebih dikenal dengan nama Fais. Lahir di Jakarta, 30 Juli 1986. Ibunya kelahiran Bandung, keturunan Garut dan Kuningan. Sedangkan Bapaknya, Djafar Hatala, peranakan Maluku.

Dulu, Djafar seorang aktifis kampus. Pernah terlibat di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia. Aktifis dari Universitas Ibnu Khaldun (Bogor) ini, sejak semester awal telah menceburkankan diri dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Puncaknya, ketika  Abdullah Hehamahua memimpin organisasi yang berkantor di Jalan Diponegoro 16 A, Jakarta Pusat tersebut.

Saat ini, Djafar sudah tak muda lagi. Penyakit struk yang telah menyerang sejak tahun 2011, membuat tubuhnya tak bisa beraktifitas full time  seperti dulu lagi. Djafar sangat bergantung pada bantuan orang-orang di sekitarnya.

Sebagai anak tertua, Fais memikul tanggungjawab untuk menggantikan Bapaknya. Peran itu tentu saja sangat berat bagi Fais, namun semua beban dipikul dengan penuh tanggungjawab. Berbagai kebutuhan keluarga di penuhi Fais, termasuk turut andil membiayai sekolah adik-adiknya.  Prisdian Arafah Hatala kini kuliah di FISIP Unpad Bandung, Julio Nur Achmad Hatala sedang menempuh pendidikan S1 di Interstudy jurusan komunikasi visual, dan  yang bontot baru masuk SMA, Verial Dika Azraldi Hatala, kini menjadi tanggungjawab Fais.

Ketiga adiknya itu telah memberi pretasi yang membanggakan, Verial misalnya, pernah memanaskan seleksi Timnas U-16, ketika dilatih Indra Sjafri. Meski tak sampai berkostum timnas, namun kemahirannya mengolah si kulit bundar telah menjadi inspirasi bagi anak-anak sekolah di lingkungannya.

Ditengah kesibukannya sebagai pekerja kantoran, Fais menyempatkan diri sebagai volunteer pada sebuah lembaga swadaya masyarakat, yang aktif memberi bantuan pengajaran pada anak-anak terlantar, yatim piatu dan tak mampu. Melalui lembaga Cento Komunitas Kegiatan Pencinta Alam (CEKAKPALA),  Fais membuat Rumah Senja yang melakukan berbagai kegiatan belajar mengajar, dengan metode caracter building, ice breaking, carier day, field trip dan sebagainya, dengan sesekali menghadirkan pengajar lintas profesi, seperti dari Kepolisian.

Jumlah anak didik di Rumah Senja saat ini, ada 91 anak.  Rumah Senja juga memiliki seorang penanggungjawab, mirip ‘Kepala Sekolah’ pada sekolah formal.  Sebagai Kepala Sekolah, Ajeng Kusuma Wardani (mahasiswi akhir FISIP Al-Azhar Jakarta), dibantu oleh sejumlah pengajar, diantaranya Hasta Setyawati (mahasiswi Psikologi Universitas Yarsi), Putri Pratiwi (lulusan S2 Kimia UI), Angelia Sompie (karyawati di perusahaan properti), Sandra (mahasiswi IPB), dan Oki Achmadian (karyawan di  Bank DKI) merangkap Ketua CEKAKPALA saat ini.

Kegigihan Fais membangun sumber daya di Kota Bekasi telah menginspirasi pemuda-pemuda di lingkungannya. Kegiatan yang semula dilakukan di berbagai lokasi itu, kini telah diberi pinjaman tempat, tepatnya di Pendopo Muhammadiyah Harapan Jaya, Bekasi Utara. (hal)

sumber foto: istimewa

 

Share This
Tags

About the Author

-

Komentar di bawah

XHTML: Anda dapat menggunakan tag html: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>