Published On: Thu, Oct 6th, 2016

Cagub Penelikung Di Pengkolan

Otentiknews.com, Jakarta – Sejak kepemimpinan di Jakarta beralih dari Jokowi ke Basuki Tjahaja Purnama, elektabilitas sang gubernur setia bertengger di urutan teratas. Beragam guncangan kasus hukum datang menerpa, tak membuat Ahok, panggilan calon petahana itu, bergeser. Justru membuatnya mendapat berkah dukungan berlipat-lipat.

Merasa diatas angin, Ahok mulai arogan, kumpulan teman-temannya yang bernaung di bawah bendera “Teman Ahok”, dijadikan senjata untuk melumpuhkan partai politik.  Laporan donasi KTP semakin membengkak dari hari ke hari, semakin membuat Ahok percaya diri. KTP-KTP tadi hendak dibarter Ahok dengan surat pengesahan dari KPU sebagai bukti keabsahan untuk ikut pilkada DKI. Dengan dalih sifat partai yang diduga matrialistis, Ahok mantap mendeklarasikan diri sebagai calon perseorangan.

Melihat data pengumpulan KTP yang kian menggunung, Ahok bertambah trengginas, kebijakan tanpa kompromi diambilnya, termasuk menjadikan DPRD yang merupakan kepanjangan tangan partai politik, sebagai musuh bebuyutan.

Namun semua itu tak lama berlangsung, selepas tampilnya Yusril Ihza Mahendra (YIM) sebagai kompetitor, perangai Ahok berubah drastis. Ahok mulai berhitung dan mengatur gaya komunikasi, meski tabiat aslinya sulit dihilangkan.

Munculnya YIM membuat Ahok gelagapan, tudingan terhadap sosok YIM dimuntahkan saban waktu. Para buzzer di medsos tak kalah beringas, berbagai informasi miring tentang YIM diunggah, namun kesemua itu dibalas YIM dengan data dan argumen yang tegas serta masuk akal.

Ahok mulai tersudut, dukungannya pelan-pelan susut, para pengumpul KTP mulai berkemas, Ahok pun pasrah dan menerima partai politik sebagai kendaraan mempertahankan DKI 1. Ahok menggagalkan dirinya menjadi cagub dengan kendaraan perseorangan.

Sementara YIM yang telah mati-matian melumpuhkan basis dan dukungan Ahok, tak satu partai pun bersedia mencalonkannya, padahal Pak SBY telah menjanjikan dukungan kepada YIM. Namun hingga masa pendaftaran berakhir, nama YIM tak kunjung didaftarkan, justru yang tampil nama lainnya. Itulah politik, patgulipatnya menghadirkan misteri dan penuh tanya. Seperti janji-janji pilpres atawa pilkada yang biasa dikhianati, janji kepada YIM pun tidak sulit untuk ditampik.

Jerih payah YIM, bak durian runtuh bagi calon yang muncul belakangan. Calon yang tak pernah disebut-sebut, bahkan dalam berbagai jajak pendapat awal itu, mendapat “berkah” dari tereleminiasinya nama YIM dalam pilkada DKI.  Mereka benar-benar mujur, seberuntung tukang ojek di pengkolan, yang tak perlu bersusah payah mengejar penumpang, tapi setiap saat selalu ada penumpang.

Dalam politik praktis, para penelikung selalu mendapat berkah dari takdir politik. Mereka tak muncul dan tak bersusah payah, tapi pada saat yang tepat muncul dan langsung mendapat posisi terhormat. Selamat datang para cagub penelikung di pengkolan. (Fiah)

sumber foto: istimewa

 

About the Author

-

Komentar di bawah

XHTML: Anda dapat menggunakan tag html: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>