Published On: Thu, Oct 13th, 2016

Alumni HMI Jakarta, Kerumuni Ahok-Djarot dan Agus-Sylvi

Otentiknews.com, Jakarta – Persaingan menuju DKI 1 semakin semarak, calon petahana akan melenggang tanpa sandungan, jika tim pemenangan pasangan Anies-Sandi dan Agus-Sylvi tidak berhasil memikat hati pemilih Jakarta. Karena itu penguatan tim pemenangan mutlak diperlukan, sebab tanpa itu mustahil kedua kandidat tersebut dapat menggunduli pasangan Ahok-Djarot yang telah berbuat bagi Jakarta.

Tim sukses merupakan duta penghubung antara calon dan masyarakat yang tidak sempat didatangi, atau kurang mendapat perhatian dari pasangan calon. Pasangan calon tidak akan mudah meyakinkan pemilih untuk mencoblosnya, mereka butuh pekerja pemenangan terampil yang dapat meringankan pekerjaan mereka, disitulah peran tim sukses. Mereka dapat meyakinkan dan memastikan kembali pemilih, sembari menjaga agar pemilih tersebut tidak beralih pilihan pada calon lainnya, saat hari pemungutan suara dilakukan.

Tim sukses tak selalu tercatat dalam daftar resmi, terkadang tim yang tidak tertulis jauh lebih banyak dan paling aktif melakukan kampanye terhadap pasangan calon. Tak terkecuali di Pilkada DKI, tim sukses beterbaran sahut-menyahut menyokong calonnya masing-masing. Hal itu tergambar dalam perbincangan di media sosial. Percakapan yang paling dominan dilakukan, berhubungan dengan masalah-masalah Pilkada. Tim sukses menjadikan media sosial sebagai ajang kampanye, baik untuk menampilkan kelebihan calonnya, maupun untuk memojokkan calon lawannya.

Sejumlah mantan aktivis di Jakarta, terhitung paling “cerewet” dalam memperbincangkan Pilkada. Satu kelompok mantan aktivis yang sangat dominan mengakses media sosial, dilakukan oleh mantan aktivis HMI. Sebagian besar dari mereka sebenarnya hanya volunteer, yang tertarik karena merasa memiliki kesamaan visi, atau kebetulan satu almamater (sama-sama mantan aktivis).

Diantara nama-nama tim sukses terakreditasi,  tertera Nurmansyah Tanjung. Mantan Ketua Umum HMI Cabang Jakarta itu didapuk sebagai tim sukses bidang kampanye dan sosialisasi oleh pasangan Ahok-Djarot. Di belakang Tanjung, sejumlah nama aktivis HMI Jakarta lainnya turut ambil bagian, bahkan terlihat sangat bringas ketika nama Ahok dijelek-jelekkan, satu diantaranya Eko Kuntadhi. Mantan aktivis HMI ini dikenal sebagai propagandis yang sukses “mencuci otak” sejumlah aktivis Jakarta, bahkan karena kepiawaiannya itu, sejumlah aktivis bengal berhasil dirubahnya menjadi aktivis yang taat. Selain kedua nama tersebut, ada banyak nama-nama lainnya yang telah lama menjadi jejaring pendukung Ahok.

Sementara di pasangan Agus-Sylvi tak kalah banyaknya, sejumlah mantan aktivis HMI Jakarta, menjadi tim penopang yang paling rajin mempromosikan pasangan militer-sipil tersebut. Apalagi sosok Sylvi, juga dikenal sebagai mantan aktivis KOHATI, yang merupakan lembaga khusus perempun underbow HMI. Hal itu semakin meneguhkan posisi para mantan anak Cilosari itu di pasangan Agus-Sylvi. Beberapa nama yang sering disebut-sebut, diantaranya Suryadilaga Salam, Bursah Zarnubi, dan Rachmat Ariyanto. Nama yang terakhir saat ini menjabat Sekretaris Partai Demokrat Jakarta Timur.

Sedangkan pasangan Anies-Sandi tak banyak diminati oleh Alumni HMI Jakarta. Dari tracking status di media sosial, hanya beberapa nama yang memiliki keberpihakan pada pasangan Anies-Sandi, diantaranya Haris Pertama dan Geisz Chalifa. Tak jelas mengapa Anies-Sandi tak diminati, padahal Anies Baswedan dikenal sebagai pengurus teras mantan alumni HMI pusat. Mungkin karena Anies bukan tokoh penting yang dikenal di kalangan HMI Jakarta. (HAL)

sumber foto: istimewa

Iklan ADR

About the Author

-

Komentar di bawah

XHTML: Anda dapat menggunakan tag html: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>