Published On: Tue, Nov 1st, 2016

AHY Paling Siap Kalahkan Ahok

Otentiknews.com, Jakarta – KPU akhirnya mengesahkan tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur untuk pemilihan kepala daerah DKI Jakarta pada 2017 mendatang. Pasangan Agus-Silvy, Ahok-Djarot dan Anies-Sandi akan beradu cepat dalam mendapatkan suara pemilih Jakarta, dan itu tidak mudah, mengingat karakteristik pemilih Jakarta dinamis dan cenderung menunggu dan melihat perkembangan setiap pasangan calon.

Anas Urbaningrum melihat bahwa pertarungan menuju DKI 1 akan sangat sengit, karena melibatkan tokoh nasional dengan reputasi mentereng. Hal itu sejalan dengan analogi mantan Presiden SBY, yang menyebut bahwa pilkada DKI sebagai pilkada dengan aroma pilpres.

Dalam diskusi ringan di beranda Sukamiskin akhir pekan lalu, mantan Ketua Umum Partai Demokrat tersebut mengungkap sejumlah kesulitan yang akan dialami dua kontestan lainnya, Ahok dan Anies, saat menghadapi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Kesukaran itu menurut Anas, hanya bisa ditangani oleh ahli “perang” terampil, yang telah teruji dalam kontestasi politik.

Salah satu dan ini yang utama, keuntungan terbesar AHY karena SBY langsung memimpin pemenangannya. Menurut Anas, dirinya sangat mengenal sosok SBY, bukan hanya sebagai mantan Presiden, tapi juga sebagai politisi yang cerdik dan brilian. Dalam tahap pemenangan politik, SBY  cerita Anas, sangat rinci, teratur dan terukur dalam bertindak. Semua kegiatan pemenangan akan dievaluasi per-hari dan akan meningkat intensitasnya mendekati hari H pencoblosan. Setiap isu akan ditanggapi dengan serius dan sungguh-sungguh, sekalipun isu-isu tersebut berkategori “sampah”.

Selain itu, lanjut Anas, SBY memiliki modal finansial yang mencukupi, serta mahir menggunakannya secara efektif dan efisien. Dengan modal panglima “perang” yang mumpuni itulah, AHY akan mudah melenggang ke putaran kedua, dan dikalkulasi Anas, jika itu terjadi maka pada putaran kedua itulah akumulasi suara akan menopang AHY tanpa perlu bekerja terlalu keras.

SBY dalam banyak testimoni, diyakini memiliki talenta yang jarang dipunyai oleh banyak politisi dalam bidang pemenangan. Dua periode dilaluinya tanpa guncangan politik berarti, semua instrumen negara berada dalam genggamannya, bahkan kendalinya berada di tangan SBY. Hal itu bisa dilakukan, karena SBY sangat cermat dalam melihat setiap dinamika politik. Karena itu SBY dianggap sebagai presiden yang berhasil membangun citra positif, dan menggunakan pencitraan sebagai alat ukur keberlangsungan pemerintahannya. Sampai-sampai, M. Qodari menjuluki SBY sebagai mbahnya pencitraan.

Apa yang dikemukakan Anas, ada benarnya. Hingga pekan kedua pasca pendaftaran, nama AHY melejit ke urutan kedua mengalahkan Anies-Sandi yang semula bercokol diposisi tersebut, meskipun selisih suara keduanya tak terlalu signifikan. Namun pergerakan suaranya cukup mengejutkan karena terjadi dalam tempo dua minggu. Artinya pemilih primordial mulai melirik AHY sebagai saingan Ahok-Djarot.

Untuk melumat dan menghentikan laju AHY, Anas menyarankan agar setiap kandidat memiliki panglima “perang” yang tangguh seperti SBY. Anas menyebut sejumlah ciri-cirinya panglima dimaksud, diantaranya: memiliki pengalaman bertarung di pileg maupun pilpres dan sukses mendulang suara mayoritas, setidaknya pada basis konstituen yang dimilikinya, serta mampu mengelola pemenangan dengan teliti dan rinci yang ditunjukkan dengan kesatuan dan kekompakan tim dalam gerak pemenangan. Jika saran Anas diikuti, pasangan lainnya berpeluang mengerdilkan AHY sebagai kontestan berposisi terendah. (HAL)

sumber foto: istimewa

 

About the Author

-

Komentar di bawah

XHTML: Anda dapat menggunakan tag html: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>